KALTIM.PUSARAN.ONLINE – Pengelolaan zakat tidak lagi sebatas memberikan bantuan konsumtif, tetapi terus diarahkan menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi yang mampu menciptakan kemandirian masyarakat.
Semangat tersebut diwujudkan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Kalimantan Timur melalui Kick Off Program Z-Chicken Tahun 2026 yang digelar di Kantor BAZNAS Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda, Rabu (22/7/2026).
Program Z-Chicken merupakan salah satu dari lima program unggulan BAZNAS dalam bidang pemberdayaan ekonomi yang memanfaatkan dana zakat secara produktif. Melalui program ini, sebanyak 35 mustahik menerima bantuan modal usaha kuliner berbasis ayam krispi sebagai bekal untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur diwakili Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Rudi Kartono, hadir sekaligus menyampaikan apresiasi kepada BAZNAS Provinsi Kaltim atas komitmennya menghadirkan inovasi pemberdayaan ekonomi umat. Menurutnya, Program Z-Chicken menjadi bukti bahwa zakat dapat dikelola secara produktif sehingga memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.
“Program Z-Chicken merupakan wujud nyata bahwa zakat tidak hanya berfungsi sebagai instrumen bantuan sosial, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan yang mampu meningkatkan kemandirian ekonomi mustahik. Melalui program ini, para penerima manfaat didorong memiliki usaha yang berkelanjutan sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga, bahkan kelak bertransformasi dari mustahik menjadi muzaki,” ujarnya.
Kabid Rudi menambahkan, program tersebut dirancang untuk melahirkan pelaku-pelaku usaha baru yang produktif sekaligus memperkuat pemanfaatan dana zakat agar semakin berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan umat.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan zakat tidak hanya diukur dari besarnya dana yang disalurkan, tetapi juga dari kemampuan program dalam menciptakan perubahan ekonomi yang nyata bagi para penerima manfaat.
Ia menegaskan bahwa Kementerian Agama senantiasa mendukung penguatan tata kelola zakat, infak, dan sedekah yang profesional, akuntabel, transparan, serta tepat sasaran. Menurutnya, sinergi antara Kemenag, BAZNAS, pemerintah daerah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan merupakan kunci dalam membangun ekosistem pemberdayaan umat yang berkelanjutan.
“Kami berharap kolaborasi seperti ini terus diperluas sehingga manfaat zakat semakin dirasakan masyarakat. Program Z-Chicken menjadi contoh konkret bagaimana zakat mampu menjadi motor penggerak ekonomi umat sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Kepada para penerima manfaat, ia berpesan agar bantuan yang diterima dimanfaatkan dengan penuh tanggung jawab, disertai semangat dan kerja keras. Ia berharap modal usaha tersebut dapat menjadi titik awal berkembangnya usaha, meningkatkan taraf hidup keluarga, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.
Melalui Program Z-Chicken, Kemenag berharap pengelolaan zakat semakin berorientasi pada pemberdayaan sehingga mampu menciptakan masyarakat yang mandiri secara ekonomi. Dengan sinergi seluruh pemangku kepentingan, zakat diharapkan tidak hanya menjadi solusi atas kebutuhan jangka pendek, tetapi juga menjadi instrumen pembangunan kesejahteraan umat yang berkelanjutan di Bumi Etam.










